Selasa, 24 Juni 2014

sistem bilangan



1
SISTEM  BILANGAN
Desimal , Biner, Oktal dan Heksadesimal

Tujuan      :   Setelah mempelajari Sistem Bilangan  diharapkan dapat,
1.    Memahami jenis-jenis sistem bilangan yang digunakan pada teknik  mikroprosessor
2.    Memahami konversi sistem bilangan desimal ke sistem bilangan biner
3.    Memahami konversi sistem bilangan desimal ke sistem bilangan oktal
4.    Memahami konversi sistem bilangan desimal ke sistem bilangan heksadesimal
5.    Memahami konversi sistem bilangan biner ke sistem bilangan oktal atau sebaliknya
6.    Memahami konversi sistem bilangan biner ke sistem bilangan heksadesimal atau sebaliknya
7.    Memahami konversi sistem bilangan desimal dan sistem bilangan biner antara  0 dan 1
8.    Mampu merubah bilangan desimal ke bentuk BCD atau sebaliknya
9.    Mampu merubah bilangan desimal ke bentuk BCH atau sebaliknya
10. Memahami ASCII Code untuk pembentukan karakter                  

1.1.  Sistem  Bilangan
1.1.1.  Umum
Dalam kehidupan sehari-hari, bilangan yang kita pergunakan untuk menghitung adalah  bilangan yang berbasis 10 atau  disebut Sistem Desimal. Setiap tempat penulisan dapat terdiri dari simbol-simbol  0, 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9. Susunan  penulisan bilangan menunjukan harga / nilai tempat dari bilangan tersebut misalnya, satuan, puluhan, ratusan dst. Tempat penulisan semakin kekiri menunjukan nilai tempat  bilangan yang semakin tinggi. Dalam teknik Digital maupun teknik mikroprosessor  pada umumnya bilangan yang dipakai adalah bilangan yang berbasis 2 atau Sistem Biner. Dalam sistem biner disetiap tempat penulisan hanya mungkin menggunakan simbol 0, atau  simbol 1, sedangkan nilai tempat bilangan tersusun seperti pada sistem desimal. Di bawah ini adalah bilangan 1001 dalam beberapa bentuk sistem bilangan.
Beberapa  Sistem  Bilangan
Disamping sistem Desimal dan sistem Biner dalam gambar terlihat pula bilangan yang berbasis 8 atau sistim Oktal dan bilangan yang berbasis 16 atau sistem   Heksadesimal.

1.1.2.  Sistem  Desimal ( Dinari )
Pada sistem desimal ( lat. decum =10 ), seperti telah kita ketahui bersama bahwa sistem ini berbasis 10 dan mempunyai 10 simbol yaitu dari angka 0 hingga 9. Setiap tempat mempunyai nilai  kelipatan dari 10 0, 10 1, 10 2, dst . Penulisan bilangan terbagi dalam beberapa tempat dan banyaknya tempat tergantung dari besarnya bilangan. Setiap tempat mempunyai besaran tertentu yang harga masing-masing tempat secara urut  dimulai dari kanan  disebut


Contoh
Angka Desimal 10932 ( 10932 (10) )
Kebiasaan sehari-hari harga suatu bilangan desimal dituliskan dalam bentuk yang mudah sbb  :

1.1.3.  Sistem  Biner
Sistem  Biner ( lat. Dual ) atau “duo” yang berarti 2, banyak dipakai untuk sinyal elektronik  dan pemrosesan data. Kekhususan sistem biner untuk elektronik  yaitu bahwa sistem biner hanya mempunyai 2 simbol yang berbeda, sehingga pada sistem ini hanya dikenal  angka “ 0 “ dan angka “1 “. 

Contoh         

Dari gambaran di atas seperti halnya pada sistem desimal, cara penulisannya dapat dinyatakan secara langsung sbb :
Setiap tempat pada bilangan biner mempunyai kelipatan 2 0, 2 1, 2 2, 2 3 dst. yang dihitung dari kanan kekiri. Selanjutnya kita juga dapat merubah bilangan desimal ke bilangan biner atau sebaliknya dari bilangan biner ke bilangan desimal.

1.1.4.  Sistem  Oktal
Aturan pada sistem oktal ( lat. okto = 8 ) sama dengan aturan yang dipergunakan pada sistem bilangan desimal atau pada sistem bilangan biner.  Pada bilangan oktal hanya menggunakan  8 simbol yaitu angka 0, 1, 2, 3, 4, 5, 6 dan 7 dan setiap nilai tempat mempunyai kelipatan 8 0, 8 1, 8 2, 8 3, 8 4, dst.

Contoh         


1.1.5.  Sistem  Heksadesimal
Sistem Heksadesimal yang juga disebut Sedezimalsystem, banyak dipakai pada teknik komputer. Sistem ini berbasis 16 sehingga mempunyai 16 simbol  yang terdiri dari 10 angka yang dipakai pada sistem desimal  yaitu  angka 0 … 9 dan 6 huruf  A, B, C, D, E dan F. Keenam huruf tersebut mempunyai harga desimal sbb   : A = 10;   B = 11;   C = 12;       D =13;   E = 14 dan   F = 15.  Dengan demikian untuk sistem heksadesimal penulisanya dapat  menggunakan angka dan huruf

Contoh         


1.1.6.  Konversi  Basis  Bilangan
1.1.6.1.  Konversi  Bilangan Desimal  Ke Sistem Bilangan  Lain
Sistem bilangan desimal secara mudah dapat dirubah dalam bentuk sistem bilangan yang lain. Ada banyak cara untuk melakukan konversi bilangan, proses yang paling mudah dan sering digunakan untuk memindah bentuk bilangan adalah “ Proses Sisa “. Tabel di bawah memperlihatkan bilangan 0 sampai 22 basis 10 ( desimal ) dalam bentuk bilangan berbasis 2 ( biner ), berbasis 8 ( Oktal ) dan berbasis 16                        ( Heksadesimal ).
Basis  10
Basis  2
Basis  8
Basis  16
0
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
       0
       1
      10
      11
    100
    101
    110
    111
  1000
  1001
  1010
  1011
  1100
  1101
  1110
  1111
10000
10001
10010
10011
10100
10101
10110
0
1
2
3
4
5
6
7
10
11
12
13
14
15
16
17
20
21
22
23
24
25
26
0
1
2
3
4
5
6
7
8
9
A
B
C
D
E
F
10
11
12
13
14
15
16
Untuk merubah bilangan desimal ke bilangan yang berbasis lain cukup membagi bilangan desimal dengan basis bilangan yang baru hingga habis.

Contoh  1

Konversi  Bilangan Desimal  Z (10) = 83  ke bilangan Biner Z (2)83 dibagi dengan basis bilangan baru yaitu 2           
                        83  :  2  =  41              sisa  1.
Sisa 1 ini merupakan digit pertama dari bilangan biner  ...x x x x 1. Untuk mendapatkan harga pada digit berikutnya adalah  :
                        41  :  2  =  20              sisa  1
Sisa 1 ini menempati digit selanjutnya sehingga bentuk binernya  ...x x x 1 1 dan seterusnya seperti di bawah ini.


Jadi  Z (10) = 83  adalah Z (2) = 1010011. Untuk meyakinkan bahwa hasil konversi di atas benar maka kita lakukan test sbb       :

Contoh  2
Konversi  Bilangan Desimal  Z (10) = 1059  ke bilangan Oktal Z (8)
Jadi  Z (10) = 1059  adalah Z (8) = 2043

Contoh  3
Konversi  Bilangan Desimal  Z (10) = 10846  ke bilangan Heksadesimal Z (16)

Jadi  Z (10) = 10846  adalah Z (16) = 2A5E

1.1.6.2.  Konversi  Basis  Bilangan  Lain  Ke  Bilangan Desimal
Untuk merubah satu sistem bilangan ke bilangan desimal, cukup dengan mengalikan masing-masing angka  dengan basis yang pangkatnya sesuai dengan tempat masing-masing. Hasil penjumlahan merupakan bilangan desimal yang dicari.
Contoh 1
Konversi  Bilangan Biner  Z (2) = 10101010  ke bilangan Desimal Z (10)
Jadi  Z (2) = 10101010  adalah Z (10) = 170

Contoh  2
Konversi  Bilangan Oktal  Z (8) = 4327  ke bilangan Desimal Z (10)
Jadi  Z (8) = 4327  adalah Z (10) = 2263

Contoh  3

Konversi  Bilangan Heksadesimal  Z (16) = B3C9  ke bilangan Desimal Z (10)
Jadi  Z (16) = B3C9  adalah Z (10) = 46025




1.1.6.3.  Konversi  Basis  Bilangan  Ke  Basis  Bilangan Lain
Untuk merubah dari satu sistem bilangan ke sistem bilangan yang lain memerlukan dua langkah.  Pertama kita rubah sistem bilangan yang lama ke  bilangan desimal kemudian dari bilangan desimal dirubah ke sistem bilangan yang diinginkan.
Contoh  1
Konversi  Bilangan Biner  Z (2) = 101101  ke bilangan Heksadesimal Z (16)
Langkah Pertama
Langkah Kedua
Jadi  Z (2) = 101101  adalah Z (12) = 2D

Contoh  2
Konversi  Bilangan Heksadesimal  Z (16) = 2FC  ke bilangan Biner Z (2)
Langkah Pertama





Langkah Kedua
Jadi  Z (16) = 2FC  adalah Z (2) = 1011111100

1.1.7.  Bentuk Bilangan Desimal dan Bilangan Biner antara 0 dan 1
Pada pembahasan sebelumnya kita telah membicarakan tentang sistem bilangan, dan konversi bilangan dalam bentuk bilangan bulat positip. Kali ini kita akan membahas tentang bilangan antara 0 dan 1 yang kita kenal dengan sebutan bilangan pecahan positip. Untuk menuliskan bentuk bilangan pecahan desimal, kita cukup menuliskan koma ( , ) dibelakang  bilangan bulatnya. Setiap tempat dibelakang koma mempunyai kelipatan 1/10.

Di bawah ini adalah contoh penulisan bilangan pecahan desimal yang sering kita jumpai.
Contoh
0,5371   =  0 + 0,5 + 0,03 + 0,007 + 0,0001
Di bawah ini adalah bentuk bilangan biner antara 0(2)  dan 1(2)



Contoh
0,101 (2)          = 0 (2)  + 0,1 (2)  +  0,00 (2)  +  0,001 (2)
Untuk merubah bilangan desimal yang besarnya lebih kecil dari 1 ( satu ) ke bentuk bilangan biner kita lakukan proses perkalian seperti di bawah ini.
Contoh
            0,4375  .  2     = 0  sisa  0,8750
            0,8750  .  2     = 1  sisa  0,7500
            0,7500  .  2     = 1  sisa  0,5000
            0,5000  .  2     = 1  sisa  0

jadi  0,4375 (10)          =  0,0111 (2)
Sebagai koreksi untuk mengetahui kebenaran konversi, dapat kita lakukan proses balik seperti di bawah ini,
0,         0            1             1           1(2) =
0 + 0. 2-1 + 1. 2-2  + 1. 2-3     + 1. 2-4 =
0 + 0.0,5 + 1.0,25+ 1.0,125 + 1.0,0625     =0,4375
No
Pangkat
Desimal
1
2-1
0,5
2
2-2
0,25
3
2-3
0,125
4
2-4
0,0625
5
2-5
0,03125
6
2-6
0,015625
7
2-7
0,007815
8
2-8
0,00390625
9
2-9
0,001953125
10
2-10
0,000976563

Tidak semua konversi dari bilangan desimal ke bilangan biner menghasilkan sisa 0 seperti pada contoh di atas . Untuk mengatasi hal tsb. maka dalam konversi kita batasi sampai beberapa angka dibelakang koma. Semakin banyak angka dibelakang koma maka kesalahanya semakin kecil.
Contoh
0,5371  .2  = 1  sisa  0,0742
0,0742  .2  = 0  sisa  0,1484
0,1484  .2  = 0  sisa  0,2968
0,2968  .2  = 0  sisa  0,5936
0,5936  .2 = 1  sisa  0,1872                   0,5371(10)       = 0,10001(2)
0,1872  .2  = 0  sisa  0,3744
0,3744  .2  = 0  sisa  0,7488
0,7488  .2  = 1  sisa  0,4976                   0,5371(10)       = 0,10001001(2)

Jika proses diakhiri sampai perkalian kelima,
            0,10001(2)       = 0,5  +  0,03125       = 0,53125
            kesalahan     = 0,5371 - 0,53125   = 0,00585

Jika proses diakhiri sampai perkalian kedelapan,
            0,10001001(2)            = 0,5  +  0,03125  +  0,00390625   =  0,53515625          
kesalahan                 = 0,5371 - 0,53515625                  =  0,00194375

Melalui kombinasi dari bilangan positip di atas 1 dan bilangan positip di bawah 1 dapat dinyatakan bentuk bilangan positip seperti di bawah ini,
Contoh
323, 4375(10)  =  ?(2)
Konversi bilangan desimal 325(10)
            325  :  2          = 162  sisa  1
            162  :  2          =   81  sisa  0
              81  :  2          =   40  sisa  1
              40  :  2          =   20  sisa  0
              20  :  2          =   10  sisa  0
              10  :  2          =     5  sisa  0
                5  :  2           =     2  sisa  1
                2  :  2           =     1  sisa  0
                1  :  2           =     0  sisa  1

325(10)             = 101000101(2)

Konversi bilangan desimal 0,4375(10)

0,4375  .  2     =  0  sisa  0,8750
0,8750  .  2     =  1  sisa  0,7500
0,7500  .  2     =  1  sisa  0,5000
0,5000  .  2     =  1  sisa  0

0,4375(10)          = 0,0111(2)
Jadi bilangan 325,4375(10) = 101000101,0111(2)
Test     :           101000101,0111(2)    = 1.28 + 1.26 + 1.22 + 1.20 + 1.2-2 + 1.2-3  + 1.2-4
                                                            = 256 +   64  +   4   +   1   + 0,25 + 0,125+  0,0625
                                                            = 325,4375(10)


1.1.8. Bentuk Bilangan Negatip
Dengan berpatokan pada titik 0 ( nol ), bilangan dapat dibedakan menjadi bilangan positip dan bilangan negatip. Disebut bilangan positip jika harga bilangan tsb. lebih besar dari nol ( disebelah kanan titik nol ) dan disebut bilangan negatip jika harga bilangan tsb. lebih kecil dari nol ( disebelah kiri titik nol ).


Bilangan +3 terletak pada 3 skala sebelah kanan setelah nol, sedangkan bilangan -3 terletak pada 3 skala sebelah kiri setelah nol. Jadi + dan - adalah suatu tanda dari bilangan. Secara prinsip tanda positip ( + ) dan tanda negatip ( - ) berlaku juga untuk bilangan biner. Pada mikroprosessor jumlah bit data sudah tertentu yaitu 8 bit, 16 bit atau 32 bit. Kita ambil contoh mikroprosessor  famili intel 8080/8085, famili Zilog Z80 dan famili motorola 6809 mempunyai 8 bit data dan dalam bentuk biner dapat dituliskan sbb            :  00000000(2) = 0(10) sampai  11111111(2) = 255(10), tanpa menghiraukan tanda positip dan negatip.  Jika dalam 8 bit data kita menghiraukan tanda positip dan tanda negatip, maka daerah bilangan di atas dibagi menjadi dua bagian sehingga bilangan tersebut menjadi +127 dan -128. Untuk daerah positip bilangan dimulai dari 00000000(2) dan 00000001(2) sampai  bilangan maksimum positip adalah  01111111(2) sedangkan daerah negatip dimulai dari 11111111(2) untuk  -1(10) sampai 10000000(2) untuk -128(10), tetapi range 8 bit data masih sama yaitu 25510  ( dari +127 hingga -128 ).
Di bawah ini menunjukan susunan 8 bit data dengan menghiraukan tanda (+) dan (-).


















            Desimal                     Biner
            +127                           01111111
            +126                           01111110
+125                           01111101
+124                           01111100
+123                           01111011
            ……..                          ………….                   Daerah  Positip        :
            +     7                           00000111                  Bilangan                    : 0 sampai ( 2n-1-1)
+     6                           00000110
+     5                           00000101
+     4                           00000100
+     3                           00000011
+     2                           00000010
+     1                           00000001
       0                           00000000
-      1                           11111111
-      2                           11111110
-      3                           11111101
-      4                           11111100
-      5                           11111011
-      6                           11111010
-      7                           11111001
-      8                           11111000
  …….                         ………….                   Daerah Negatip        :
-  124                          10000100                  Bilangan                    : -1 sampai - 2n-1
-  125                          10000011
-  126                          10000010
-  127                          10000001
-  128                          10000000
                                                                       
n = jumlah bit, dalam contoh di atas adalah 8
Pada susunan ini tempat tertinggi atau disebut Most Significant Bit  ( 27 ), hanya digunakan sebagai Bit  tanda. Untuk harga 0 pada bit 27 adalah tanda bilangan positip sedangkan harga 1 pada bit 27 merupakan tanda bilangan negatip.

1.1.9. Bentuk Bilangan  Dalam  Code Form
Mengkonversi bilangan yang berharga besar, memerlukan hitungan yang cukup melelahkan. Melalui bilangan  dalam Code Form maka pekerjaan konversi bilangan dapat dipermudah dan dipercepat. Di bawah ini adalah Code Form dalam bilangan Desimal, Bilangan Oktal dan bilangan Heksadesimal  yang sering dipergunakan.
1.1.9.1.  Bentuk  BCD - Biner Code Desimal
Bilangan desimal pada setiap tempat dapat terdiri dari 10 bilangan yang berbeda-beda. Untuk bilangan biner bentuk dari 10 elemen yang berbeda beda memerlukan 4 bit. Sebuah BCD mempunyai 4 bit biner untuk setiap tempat bilangan desimal.
Contoh
            Z(10) = 317
           
Dalam contoh ini BCD terdiri dari 3 kelompok bilangan masing-masing terdiri dari 4 bit , dan jika bilangan desimal tersebut di atas dikonversi ke dalam bilangan biner secara langsung adalah 317(10) = 100111101(2) dan hanya memerlukan 9 bit.  Untuk contoh proses sebaliknya dapat dilihat di bawah ini.
Contoh
           
Jadi bentuk BCD di atas adalah bilangan Z(10) = 5170.

1.1.9.2.  Bentuk  BCO - Biner Code Oktal
Bilangan oktal pada setiap tempat terdiri dari 8 bilangan yang berbeda-beda. Untuk 8 elemen yang berbeda-beda diperlukan 3 bit. Sebuah BCO mempunyai 3 bit biner untuk setiap tempat bilangan oktal.
Contoh
            Z(8) = 634
           

Untuk proses sebaliknya adalah setiap 3 bit dikonversi ke dalam bilangan oktal.
Contoh
           
Jadi bentuk BCO diatas adalah bilangan Z(8) = 5401.

1.1.9.3.  Bentuk  BCH  -  Biner  Code  Heksadesimal
Bilangan heksadesimal dalam setiap tempat  dapat terdiri dari 16 bilangan yang berbeda-beda ( angka dan huruf ). Bentuk biner untuk 16 elemen memerlukan 4 bit. Sebuah BCH mempunyai 4 bit biner untuk setiap tempat bilangan heksadesimal.
Contoh
            Z(16) = 31AF
           
Untuk proses sebaliknya, setiap 4 bit dikonversi ke dalam bilangan heksadesimal.
Contoh
           
Jadi bentuk BCH diatas adalah bilangan Z(16) = A618.

1.1.10. Metoda  Balikan
Metoda yang kita gunakan bisa dibalik yaitu dimulai dari bilangan Heksadesimal dirubah kedalam bentuk  BCH ( group digit biner empat-empat ). Buat group ulang ke bentuk BCO ( group digit biner tiga-tiga ) dari titik desimal untuk mengkonversikan ke dalam bilangan Oktal. Akhirnya bilangan Oktal dapat dikonversikan ke dalam bentuk bilangan desimal dengan metoda biasa dan dengan cara ini konversi basis bilangan dapat dipermudah.
Contoh 1
Tunjukkan bilangan Heksadesimal  4B2,1A616  ke bentuk bilangan Biner, Oktal dan Bilangan Desimal yang ekuivalen.
Lakukanlah   :           a.  Tulis ulang  4B2,1A616 dalam  bentuk BCH
b.    Groupkan ulang kedalam bentuk   BCO dari titik Desimal
c.    Tunjukkan ekuivalen Oktalnya setiap BCO
d.    Akhirnya konversikan bilangan Oktal ke ekuivalen Desimal
Jika ke-4 langkah di atas dilakukan dengan benar akan menghasilkan,
a.   0100   1011  0010  ,  0001  1010  01102       
b.    010   010   110   010   ,   000   110   100   1102
c.       2      2       6       2     ,     0       6       4      68
d.    1202,10310         
Contoh 2
Selesaikan bilangan Heksadesimal  2E3,4D16  ke bentuk bilangan Biner, Oktal dan
            2E3,4D16        =  0010   1110   0011 ,  0100   11012
                                    =  001   011   100   011 ,  010   011   0102
                                    =    1       3       4       3   ,   2       3       28
                                    =  739,30110 

1.1.11.   ASCII  Code  - American Standard Code For Information Interchange
Dalam bidang mikrokomputer ASCII-Code mempunyai arti yang sangat  khusus, yaitu untuk mengkodekan karakter ( Huruf, Angka dan tanda baca yang lainnya ). Code-code ini merupakan code standard yang dipakai oleh sebagian besar sistem mikrokomputer. Selain huruf, angka dan tanda baca yang lain ada 32  ( mis ACK, NAK dsb. ) merupakan kontrol untuk keperluan transportasi data. Di bawah ini adalah tabel 7 bit ASCII Code  beserta beberapa penjelasan yang diperlukan.

Singkatan
Arti
Ket. dlm. Bhs Inggris
STX
Awal dari text
Start  of Text
ETX
Akhir dari text
End of  text
ACK
Laporan balik  positip
Acknowledge
NAK
Laporan balik  negatip
Negative Acknowledge
CAN
Tidak berlaku
Cancel
CR
Carriage Return
Carriage Return
FF
Form Feed
Form Feed
LF
Line Feed
Line Feed
SP
Jarak
Space
DEL
Hapus
Delete

Tabel  ASCII  Code








H
0
0
0
0
1
1
1
1







E
0
0
1
1
0
0
1
1







X
0
1
0
1
0
1
0
1
Bit
b7
b6
b5
b4
b3
b2
b1

0
1
2
3
4
5
6
7




0
0
0
0
0
NUL
DLE

0
@
P
`
p



0
0
0
1
1
SOH
DC1
!
1
A
Q
a
q




0
0
1
0
2
STX
DC2
"
2
B
R
b
r




0
0
1
1
3
ETX
DC3
#
3
C
S
c
s




0
1
0
0
4
EOT
DC4
$
4
D
T
d
t




0
1
0
1
5
ENQ
NAK
%
5
E
U
e
u




0
1
1
0
6
ACK
SYN
&
6
F
V
f
v




0
1
1
1
7
BEL
ETB
'
7
G
W
g
w




1
0
0
0
8
BS
CAN
(
8
H
X
h
x




1
0
0
1
9
HT
EM
)
9
I
Y
I
y




1
0
1
0

A
LF
SUB
*
:
J
Z
j
z




1
0
1
1
B
VT
ESC
+
;
K
[
k
{




1
1
0
0
C
FF
FS
,
L
\
l
l




1
1
0
1
D
CR
GS
-
=
M
]
m
}




1
1
1
0
E
SO
RS
.
N
^
n
~




1
1
1
1
F
SI
US
/
?
O
_
o
DEL

Contoh
Untuk  mendapatkan  ASCII Code bagi karakter  N adalah  100 1110 ( 4E16 ) dengan penjelasan bahwa 100 adalah b7, b6 dan b5 yang lurus keatas terhadap huruf N dan dan berharga 4 sedangkan 1110 adalah b4, b3, b2 dan b1 yang lurus kesamping kiri terhadap huruf N dan berharga E.
LATIHAN
1        a.   Bilangan biner adalah bilangan yang berbasis ……………..
b.    Bilangan heksadesimal adalah bilangan yang berbasis …………..
 

                                          a.  dua            b. enam belas
 2       Konversikan bilangan desimal di bawah ini ke dalam bilangan biner
a.    123410      b. 567010        c. 232110
 

            a.  10011010010      b. 1011000100110   c. 100100010001
3        Konversikan bilangan biner di bawah ini ke dalam bilangan desimal
a.    10101010               b. 01010101    c. 11001100     d. 10011111
                       
                a. 170             b. 85         c. 204            d. 159
4        Konversikan bilangan biner di bawah ini ke dalam bilangan oktal
a.    1 0 1  0 1 1  1 1 1  0 0 12            b.   1 1 0  0 1 0  1 1 0  1 1 12
 

                                    a. 53718             b. 62678
5        Konversikan bilangan oktal  di bawah ini ke dalam bilangan biner
a.    21708        b. 35718
 

                a.  0 1 0  0 0 1  1 1 1  0 0 0              b.  0 1 1  1 0 1  1 1 1  0 0 1
6        Konversikan bilangan desimal di bawah ini ke dalam bilangan heksadesimal
a.    178010      b. 366610        c. 523010        d. 674410
 

                  a. 06F4           b. 0E52          c. 146E           d. 1A58

7        Konversikan bilangan heksadesimal di bawah ini ke dalam bilangan desimal
a.    ABCD16    b. 217016        c. B75F16       d. EBED16
 

                        a. 43981         b. 8560           c. 46943         d. 60397
8        Konversikan bilangan pecahan desimal di bawah ini ke dalam bilangan biner
a.    0,312510       b. 0,6562510       c. 0,3437510       d. 0,14062510
 

                        a.  0,0101       b.  0,10101    c.  0,01011     d.  0,001001
9        Konversikan bilangan desimal di bawah ini ke dalam bilangan biner
a.    11,62510       b. 0,687510       c. 0,7510       d. 25,7510
 

                  a.  1011,101    b. 0,1011     d.  11001, 11
10    Konversikan bilangan desimal di bawah ini ke dalam bilangan heksadesimal
a. 348,65410              b. 1784,24010           
 

                        a.  15C,A78       b.  6F8,3D5          
11    Konversikan bilangan di bawah ini ke dalam bilangan desimal
a.    010100011,0011111012           b.  654,2768               c. 4C5,2B816
 

                  a.  163,245        b.    428,371          c.   1221,1699
12    Rubahlah bilangan biner di bawah ini ke dalam bentuk BCD
a.    101001100001112                     b.  10101011000112
 

                  a.  2987                      b. 1563

13    Rubahlah bentuk BCD di bawah ini ke dalam bilangan biner
a.    1987         b. 2346           c. 501
 

               a. 1 1001 1000 0111      b. 10 0011 0100 0110      c. 101 0000 0001
14    Rubahlah bilangan biner di bawah ini ke dalam BCO
a.    111111010012                b. 101110 0101002              c. 11000000102
 

                        a. 3751           b. 5624           c. 1402
15    Rubahlah bilangan biner di bawah ini ke dalam BCH
a.    11011111001011102                 b. 1101001100000012
 

                        a. CF2E         b. 6981
16    Rubahlah Bentuk  BCH di bawah ini ke dalam bilangan heksadesimal
a.    F0DE        b. 1CAB         c. 834
 

        a.  1111 0000 1101 1110    b. 1 1100 1010 1011    c. 1000 0011 0100
17    Nyatakan positip atau negatip bilangan biner di bawah ini
            a. 01111111              b.  10000000             c.  01111011
 

                        a. Positip  127           b. Negatip  128         c. Positip 123
18  Nyatakan bilangan biner negatip di bawah ini ke dalam bilangan desimal
a.    10001000                        b. 11110111              c.  10000101             d. 10011100
 

                  a. -120            b.  -9               c. -123            d. -100

19    Nyatakan  ASCII Code di bawah ini dalam  bentuk karakter
a.    4116           b. 5A16            c. 2416             d.  7716
 

                  a. A     b. Z     c. $      d. w
20    Nyatakan Karakter di bawah ini dalam ASCII  Code
a.    a                b. x                  c. m                 d.  H
 

            a. 6116                        b. 7816                        c. 6D16            d. 4816           
21    Dengan Keyboard standard ASCII, pada layar monitor nampak tulisan sebagai berikut
                                                PRINT X
            Nyatakan Keluaran pada Keyboard tersebut.
 

                  P (101 0000); R (101 0010); I (100 1001); N (100 1110)
                                    T (101 0100); space ( 010 0000); X (101 1000)
















TUGAS


Pages

Diberdayakan oleh Blogger.

Ads 468x60px

Followers

Featured Posts Coolbthemes

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Powered by Blogger